live without rice.

that time. i was free of white rice for almost 4 months. and nearly 6 years in pescetarian mode.
then. well. ok. maybe i got failed to not to eat white rice due to my expansion to my hometown. living with mother is (truely) ruining your proposed lifestyle. i tried to provide the brown rice, but mbak home-assistance sometimes forget to cook it just for me. i called it, reluctance. frankly, so far my weight does not seem so skyrocket by white rice, i feel fine (and honestly i am going skinnier because of my long-crazy-sickness). and here, thank God :) i will start again :D
in odd moments, i just think that an observation about what thing that i can live without is sumthin challenging :) by all means.
“mungkin aku bisa hidup tanpa udara, tanpa air, tetapi tidak ada jalan bagiku hidup tanpa Tuhan. apabila engkau cabut kedua belah mataku atau engkau potong hidungku, engkau tak dapat membunuh aku. Akan tetapi apabila engkau mencabut keyakinanku tentang Tuhan, berarti engkau telah mencabut jiwa dan kehidupanku.” Mahatma Gandhi
photo from here.

i think the position must be changed right now :) i will say “have a nice new life in a new city!” and Ganbatte! All the best for you. Amin YRA.
my friend said “Sometimes in life you meet someone who leaves nothing but smile in your face and footprints in your heart.. :)”
danke schon for the beautiful drawing. as always :)
Every day I say I’ll try something new
Make some changes that are long overdue
Tryin’ to wrap my head around it
Still remain surrounded
By walls that I can’t seem to get through
A part of me so keen to see
What I will find if I leave it all behind
I keep dreaming ‘bout where I could be
About the places and the faces I’d see
This is bigger than myself
I know that no one else
Can do what’s clearly up to me
It’s never too late to change your fate
Right here and now, I’m gonna turn my world around
I can’t stop what I’ve started
‘Cos I’m finally on my way
And it’s time to say goodbye to yesterday
If this goodbye hurts I’m sorry
But it’s got to be this way
‘Cos it’s time to say goodbye to yesterday
Well, I used to think I was stuck on red
Now I know that it was all in my head
But I’m done making excuses
Can’t fool myself, it’s useless
I’ll follow my own lead instead
A part of me so keen to see
What I will find if I just leave it all, leave it all behind
mai pen lai. tidak apa-apa.
Yang penting adalah mulai.
Kata-kata Umberto Eco dalam bukunya Tamasya dalam Hiperealitas memang selalu terngiang ketika ada rasa bingung dan malas dalam melakukan sesuatu. Lagipula, kenapa harus begitu takut ini itu jika mulai saja belum?

Tadinya ingin menulis di akhir 2012, tapi pilihan untuk menjalani kehidupan dengan orang-orang terdekat dan tidur sendirian di kamar lebih impulsive untuk dipilih, menang.
Semalam, saya memulai 2013 dengan keluar dari kamar, meng-sms seorang teman dekat, mendengar dan melihat kembang api, menamatkan membaca buku The Geography of Bliss (Eric Weiner), dan bersyukur kepada Tuhan.
Ingat sekali ketika awal tahun lalu, 2012, ada teman yang menulis di twitternya, bagaimana kamu mengawali tahun adalah pertanda bagaimana kamu menjalani tahun itu.
Awal tahun 2012 lalu, saya mengawali dengan traveling & volunteering ke Bromo bersama teman-teman. Dan benar saja, sepanjang tahun saya melakukan cukup banyak perjalanan jalan-jalan di pulau jawa. Bandung, Jogja, dan Jakarta sudah pasti. Tambahannya : Surabaya, Solo, Klaten, Semarang, Bogor, Ambarawa, Pulau Seribu, Madura, Kediri, Jepara, Karimun Jawa, Surabaya, Banyuwangi, dan terakhir adalah menyusuri pantai di Jogja bagian selatan. Setahun ini saya belajar untuk packing dengan cepat dan menghadapi banyak ketidak-pastian selama perjalanan, dan yang lebih penting, bagaimana menikmati perjalanan itu sendiri.
Tinggal di Bandung dalam keadaan sudah bekerja jelas berbeda dengan waktu kuliah dulu. Pulang kerja walaupun lelah tapi pekerjaan tidak dibawa pulang, tahun 2012 cukup banyak juga saya dan teman-teman melakukan wisata kuliner dan nonton bioskop, di malam hari sepulang kerja dan weekend. Dan sebagian besar kuliner Bandung memang tidak pernah mengecewakan. Makan enak, menikmati interior restoran yang berbeda-beda, mengobrol dengan teman, memotret, dan meng-upload di instagram. Waktu luang sekali. Foya-foya.
Selain itu, saya tidak hanya melakukan traveling antar kota atau di dalam kota, tapi juga kantor. Dalam setahun saya merasakan berada di 3 kantor. Walaupun saya sudah berharap untuk mengakhiri tahun dengan tidak bekerja dulu dan membantu pekerjaan ayah di Jogja, namun Alhamdulillah ternyata masih diizinkan untuk berkarya di kantor baru. Tuhan tahu pasti saya tidak bisa diam di rumah kalau tidak ada pekerjaan. Yang saya pikirkan adalah, tiga kantor berarti teman-teman baru, saudara baru, kebudayaan baru, dan pekerjaan baru. Sekalipun itu juga berarti banyak adaptasi dan stress yang tidak bisa dihindari. tapi toh ya.. lewat juga :)
Kemudian 5 minggu terakhir saya di 2012 diakhiri dengan memindahkan 273 kilo barang (yang sebagian besarnya adalah buku) dan satu motor ke kampong halaman, kembali hidup bersama umi dan Jogja yang 6 tahun saya tinggalkan. Beberapa tahun hidup sendiri di Bandung membuat saya merasa membuang-buang energi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ‘Mau pergi kemana? Pergi dengan siapa? Kenapa belum pulang? Kenapa pulang terlambat? Kenapa hape tidak bisa dihubungi?’
Tapi konsekuensinya, umi memasak untuk saya makanan yang enak-enak, mbak asisten menyapu mengepel menyetrika untuk saya, ada teman menonton tv kabel dan ngobrol di meja makan dengan abah, mesin cuci yang sangat meringankan beban, kakak yang bisa dicurhati kapan saja, 2 adik laki-laki yang selalu ceria untuk diajak nonton bioskop dan makan di luar, para keponakan yang siap menghibur, dan teman-teman yang baik. Haik, Terbayar. Feel never better :)
uang itu penting, tapi kurang penting dibandingkan yang kita kira dan bukan seperti yang kita kira. keluarga itu penting. demikian juga dengan sahabat. rasa iri itu racun. begitu juga dengan berpikir yang berlebihan. pantai itu bersifat pilihan. tapi tidak dengan kepercayaan. tidak pula dengan rasa syukur.
Mungkin benar kata buku The Geography of Bliss di atas, mungkin saya mencari entah apa dalam sibuknya pekerjaan, hiruk-pikuk kehidupan Bandung, dan perjalanan di banyak kota dalam setahun lalu, tapi kebahagiaan itu adalah hubungan yang baik (dengan manusia dan Tuhan) dan rasa syukur.
terimakasih Tuhan. 2012 mungkin hanyalah angka dan penanda, untuk belajar. 2013 mungkin hanyalah angka dan penanda, untuk menjadi. menjadi manusia yang lebih baik lagi di mataNya. mai pen lai. tidak apa-apa. apapun yang akan terjadi di 2013 ini, mulailah, terjadilah :)
Nice idea. Bisa jd inspirasi buat urban farming di rusun sederhana ya :))
A Bridge to Nature: Barreau & Charbonnet’s “Volet Vegetal” Urban Gardening Concept

siang hari di setiabudhi supermarket.
saya pegang-pegang tempe daun kotak ukuran besar, hendak membeli.
ibu-ibu berumur 60an ber-cat kuku hijau toska di sebelah saya tiba-tiba menunjuk tempe pilihan saya, “kenapa adek lebih pilih tempe daun daripada yang ini?” si ibu megang tempe kotak kecil berplastik.
“karena lebih enak?” :) kata saya gitu “saya lebih suka yang daun, karena kalau tempe plastik suka terasa lebih sangit..”
“ohh begitu ya?” kata dia terus megang-megang tempe lain yang dibungkus daun bentuk segitiga dan berplastik.
“nah yang itu jg enak bu!” trus saya jadi bimbang mau yang ini apa yang itu, saya mulai pegang-pegang juga hehe
“dibumbuin enak kali ya? bumbu instan gitu ya dek?”
“oh dibumbuin pake garem + bawang putih jg bisa kok bu..”
“ohhh gitu… kalo di tepungin?”
“iya itu garem bawang diuleg aja tambahin tepung sama kucaia atau daun bawang juga udah enak”
“tepung apa?”
“tepung terigu aja biasa…”
“ohhh.. tepung beras?”
“oh boleh ditambahin tepung beras sedikit biar agak krispi ya..” :)
“ohh ya ya hehe… ihhh adek kecil-kecil pinter masak ya..” kata dia sambil senyum-senyum ramah
“hee…” belum sempet saya jawab, tiba-tiba temen saya dateng nyamperin bilang kalo ayo beli tempe gede itu dibagi dua aja biar murah dan ga mubajir, lalu saya udah ga liat ibu-ibu itu akhirnya ngambil tempe yang mana, beli daun bawang apa engga.
saya cuma mikir, udah seumur itu ternyata ada ya yang belum tahu gimana sekedar goreng tempe, atau bikin tempe mendoan, yang tau cuma bumbu instan, huhu, entah kenapa rasanya miris. tempe bagi saya adalah makanan tersehat di dunia disamping buah dan sayuran, dan bisa diolah menjadi berbagai macam makanan enak tanpa harus pakai bumbu instan yang kebanyakan pakai msg. #youarewhatyoueat
photo from here. thank you for the nice photo!

beberapa hari yang lalu, saya buka buku agenda tahun lalu kemudian ada catatan tentang artikel yang saya baca soal kenapa orang-orang di Lucerne Swiss itu begitu bahagia :
Menganggap sumber kebahagiaan, selain toilet umum bersih, adalah bebas dari rasa iri.
“Don’t shine the spot light too brightly on yourself or you might get shot.”
Semakin kaya, semakin bersahaja.
“If you’ve gotten it, hide it!”
kemudian saya berpikir tentang diri saya yang kadang muncul hasrat-hasrat ingin beli ini itu ketika setelah gajian bulanan, padahal barang-barang yang diinginkan kebanyakn bukan kebutuhan utama, dan hanya terdorong oleh budaya konsumtif yang meng-ada-ada-kan kebutuhan dan pencitraan melalui barang2 yang dipakai.
mungkin orang-orang Swiss itu benar, kalau kita tidak konsumtif dan hidup sederhana, maka akan mudah bagi orang lain untuk tidak iri juga dengan apa yang kita punya, namun iri ingin memiliki sifat kebersahajaan itu sendiri.
what an unpretentious life :)
foto : kamar mandi rumah pak apep, cigadung.